KKL BTTB Pantai Kondang Merak Malang Selatan

LAPORAN PRAKTIKUM
KULIAH KERJA LAPANGAN  
BOTANI TUMBUHAN TIDAK BERPEMBULUH
DI PANTAI KONDANG MERAK MALANG SELATAN

Dosen Pengampu :
Ainun Nikmati Laily, M.Si
Drs. Sulisetjono, M.Si

Disusun Oleh :
Moch Faizul Huda (13620010)
Leni Setiawati (13620015)
Titi Nur Kusmafuri (13620017)
Izzatu Septina Harin (13620019)
Moh Nukman (13620028)



JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2014




KATA PENGANTAR

Bissmillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur ke Hadirat Allah SWT yang melimpahkan segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Pantai Kondang Merak  yang menjadi salah satu tugas mata kuliah Botani Tumbuhan Tidak Berpembuluh. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada junjungan alam nabi besar Muhammad SAW.
Selanjutnya, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah banyak memberikan bantuan, bimbingan dan motivasi khususnya kepada:
1.             Ibu Dr. Evika Sandi Savitri, MP. selaku Ketua Jurusan Biologi yang telah memotivasi, membantu dan memberikan penulis arahan yang baik dan benar dalam menyelesaikan penulisan laporan penelitian ini.
2.             Ibu Ainun Nikmati laily, M.Si. dan Bapak Drs. Sulisetjono, M.Si selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan waktu luang, arahan dan kontribusi dalam penyelesaian laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di Pantai Kondang Merak.
3.             Semua pihak yang telah membantu penulis hingga terselesaikanya laporan penelitian ini, Semoga Allah SWT memberikan balasan yang setimpal atas jasa dan bantuan yang telah diberikan.
Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna, kritik dan saran sangat dibutuhkan demi penyempurnaan laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini. Semoga laporan Kuliah Kerja Lapangan (KKL)  ini dapat bermanfaat dan menambah ilmu pengetahuan.

                                                                                                            15, Oktober 2014

                                                                                                                        Penulis




BAB I
PENDAHULUAN
1.1         Latar Belakang
Alga adalah mikroorganisme utama yang berperan dalam HRAP. Alga juga merupakan protista bertalus, karena belum mempunyai akar, batang dan daun secara jelas. Alga juga memiliki pigmen dan klorofil. Tubuhnya terdiri atas satu sel (uniseluler) dan ada pula yang banyak sel (multiseluler). Alga bersifat autotrof (dapat menyusun makanannya sendiri). Hampir semua ganggang bersifat eukaryotik. Alga memiliki ciri-ciri khusus, diantaranya adalah memiliki pigmen fotosintesis seperti klorofil atau karotenoid, bahan dinding sel terdiri dari polisakarida, lipid dan bahan protein, aspek struktur selnya sendiri tidak memiliki membran yang memisahkan nukleus.
Klasifikasi alga didasarkan pada beberapa hal, yakni pigmen, produk makanan cadangan, flagella, dinding sel, siklus hidup dan reproduksinya. Alga terbagi dalam 10 phylum utama, yaitu Chlorophyta, Euglenophyta, Chrysophyta, Pyrrophyta, Phaeophyta dan Rhodophyta, Bacillaryophyta, Xanthophyta, Chrypthophyta dan Dinophyta (Bellinger dan Sigee, 2010).
Habitat hidup alga umumnya di air laut, sabagian di air tawar dan tempat-tempat yang lembab. Berdasarkan habitat yang ditempatinya diperairan, dibedakan atas:
·                Ganggang Subbaerial yaitu ganggang yang hidup didaerah permukaan,
·                Ganggang Intertidal, yaitu ganggan secara periodic muncul kepermukaan karena pasang surut,
·                Ganggang Subritorsal, yaitu ganggang yang berada dibawah permukaan air.
·                Ganggang Edafik, yaitu ganggang yang hidup diddalam tanah pada dasar perairan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan alga dibedakan menjadi dua, yaitu faktor fisik (cahaya, temperatur air, kekeruhan/kecerahan, pergerakan air) dan faktor kimia (oksigen terlarut, ph, salinitas, nutrisi). Faktor-faktor inilah yang mempengaruhi habitat kehidupan alga.
Allah berfirman dalam Q.S Asy-Syu'araa' ayat 7
artinya “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami tumbuhkan di bumi itu perbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik?”,
ayat tersebut memerintahkan kita untuk melakukan penelitian tentang tanaman-tanaman yang sebagian besar belum teridentifikasi, termasuk alga (ganggang) berikut habitatnya.

1.2         Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada penelitian ini adalah bagaimana habitat kehidupan makroalga divisi Chlorophyta, Rhodophyta, dan Phaeophyta di pantai Kondang Merak Malang.

1.3         Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui habitat kehidupan makroalga divisi Chlorophyta, Rhodophyta, dan Phaeophyta di pantai Kondang Merak Malang.

1.4         Manfaat
Adapun manfaat dari KKL (Kuliah Kerja Lapangan) ini adalah Agar mahasiswa dapat mengetahui keanekaragaman dan habitat sumber daya hayati khusunya alga sehingga dapat menjaga kelestarian dan keimbangan perairan di Pantai Kondang Merak.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1    Habitat Kondang Merak
Pantai Kondang Merak terletak di Desa Sumberbening, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang.Masih banyak orang bahkan masyarakat Malang yang tidak mengetahui keberadaan Pantai yang terletak di bagian selatan Kabupaten Malang ini. Kurang lebih 63,5 km dan dengan jarak tempuh sekitar 2,5 jam dari Kota Malang. Terletak diantara 8°23’ 50,56” Lintang Selatan dan 112° 31’ 06,89” Bujur Timur. Topografi kawasan Pantai Kondang Merak terdiri dari dataran luasnya diperkirakan 1.125 Ha dan perbukitan atau pegunungan luasnya diperkirakan 1.526 Ha.Pantai Kondang Merak mempunyai pantai yang relatif terlindung, selain itu terdapat adanya muara sungai (estuari) yang memiliki organisme yang beraneka ragam yang meliputi terumbu karang, lamun, dan mangrove.Faktor-faktor Oceanografi yang mempengaruhi perairan Pantai Kondang Merak meliputi suhu, arus, salinitas, pH dan kecerahan (Prasetyo, 2009).
Kondisi ekologi daerah pasang surut Pantai Kondang Merak yaitu suhu air rata-rata 26,5o C, pH air rata-rata 5,6, sedangkan subtrat berupa pasir, lumpur, batu-batuan, termasuk karang dan sebagian besar adalah batu karang (Saptasari, 2008).
Menurut Hayati (2009) Pantai kondang Merak merupakan pantai yang relatif tertutup dari masyarakat luar, terdiri atas sejumlah penduduk yang kehidupan sehari-harinya sangat bergantung pada sumber daya alam di pantai.Sebagian besar masyarakat membudidayakan makroalga sebagai sumber penghasilan.
Algae termasuk golongan tumbuhan berklorofil dengan jaringan tubuh yang secara relatif tidak berdiferensiasi, tidak membentuk akar batang dan daun. Tubuh Algae atau ganggang secara keseluruhan  disebut dengan talus ganggang dan golongan Thallopyta yang lain dianggap sebagai bentuk tumbuhan rendah yaitu tumbuhan yang mempunyai hubugan kekeluargaan yang sangat erat dengan organisme lain yang paling primitif dan mulai muncul pertama di bumi sifat tumbuhan rendah yang memiliki stuktur yang kompleks, diperkirakan terdapat sekitar 30.0000 spesies ganggang yang tumbuh  di bumi, kebanyakan diantaranya hidup dilaut, species yang hidup  diair tawar kelihatannya mempunyai arah perkembangan yang lebih leluasa, jika dibandingkan dengan bentuk yang hidup didarat (Tjitrosoepomo, 1983).
Menurut Luning (1990) dalam Jelantik (2003), alga makroskopis memiliki ciri-ciri umum sebagai berikut:
1.     Tubuhnya tersusun dari banyak sel
2.     Struktur tubuhnya berupa thallus yaitu suatu struktur yang belum dapat dibedakan dengan jelas antara akar, batang, dan daun.
3.     Di dalam sel-sel tubuhnya terdapat pigmen penyerap cahaya yang berupa kloroplas atau kromatofor
4.     Bersifat autotrof yang dapat menghasilkan zat organik dan oksigen melalui proses fotosintesis
5.      Dapat berkembang biak secara seksual dan aseksual 
Menurut Ciremai (2008), bahwa sampai permulaan abad 20 telah dikenal 4 kelas Algae, yaitu Chlorophyceae, Phaeophyceae, Rhodophyceae dan Myxophyceae (Cyanophyceae). Ahli Protozoologi menempatkan semua organisme bersel tunggal yang berkhlorofil, berflagella seta motil dalam kelas Mastigophora dari filum Protozoa. Para pakar botani mengeluarkan anggota-anggota tertentu dari deret (seri) Volvocin. Rabenhorst menempatkan seri Chlamydomonas-Volvox dalam ganggang hijau rumput dan diberi nama Chlorophyllaceae. Xanthophyceae (Heterokontae) dipisahkan dari Chlorophyceae pada permulaan abad 20 dan Fagellatae tertentu yang berpigmen dimasukkan dalam kelas Xanthophyceae. Berbagai macam kelompok yang semula oleh pakar Protozoologi dimasukkan dalam Mastigophora secara filogegenetik berhubungan dengan organisme yang bersifat Algae sejati. Semua tumbuhan yang tingkat perkembangannya lebih tinggi daripada Thallophyta pada umumnya mempunyai warna yang benar-benar hijau, karena mempunyai sel-sel dengan platida yang mengandung klorofil-a dan -b. kebanyakan hidup di darat dan sel-selnya telah mempunyai dinding yang terdiri atas selulosa.
2.1.1 Chlorophyta
Menurut Nontji (1981), Chlorophyceae merupakan kelompok terbesar dari vegetasi Algae. Perbedaan dengan divisi lainnya karena memiliki warna hijau yang jelas seperti pada tumbuhan tingkat tinggi karena mengandung pigmen klorofil a dan klorofil b lebih dominan dibangkan karotin dan xantofil. Hasil asimilasi dari beberapa amilum, penyusunnya sama seperti pada tumbuhan tingkattinggi yaitu amilose dan amilopektin. Algae berperan  sebagai produsen dalam ekosistem. Berbagai jenis Algae yang hidup bebas di air terutama yang tubuhnya bersel satu dan dapat bergerak aktif merupakan penyusun fitoplankton. Sebagian besar fitoplankton adalah anggota Algae hijau, pigmen klorofil yang demikian efektif melakukan fotosintesis sehingga Algae hijau merupakan produsen utama dalam ekosistem perairan.
Algae hijau sebagian besar hidup di air tawar, beberapa di antaranya di air laut dan air payau.Algae hijau yang hidup di laut tumbuh di sepanjang perairan yang dangkal.Pada umumnya melekat pada batuan dan seringkali muncul apabila air menjadi surut.Sebagian yang hidup di air laut merupakan mikro Algae seperti Ordo Ulotrichales dan Ordo Siphonales.Jenis yang hidup di air tawar biasanya bersifat kosmopolit, terutama yang hidup di tempat yang cahayanya cukup seperti kolam, danau, genangan air hujan, dan pada air mengalir (air sungai, selokan).Algae hijau ditemukan pula pada lingkungan semi akuatik yaitu pada batu-batuan, tanah lembab, dan kulit batang pohon yang lembab (Taylor, 1960).
2.1.2 Rhodophyta
Alga ada beberapa jenis yang kesemuanya masuk dalam divisi.Salah satunya adalah divisi Rhodophyta.Divisi ini dari segi klasifikasi taksonominya hanya terdiri dari satu kelas saja yaitu kelas Rhodophyceae. Divisi Rhodophyta memiliki ciri-ciri antara lain selnya mempunyai dinding yang terdiri dari selulose dan agar atau karagen. Rhodophyceae tidak pernah menghasilkan sel-sel berflagela.Memiliki sejumlah pigmen klorofil yang terdiri dari klorofil a dan d. Memiliki Fikobilin yang terdiri dari fikoeritrin dan fikosianin yang sering disebut pigmen aksesoris.terdapatkaroten yaitu pigmen-pigmen yang terdapat dalam kloroplas. Cadangan makanan berupa tepung flaridea dan terdapat diluar kloroplas.Memiliki talus (Gupfa, 1981).
Hampir semuanya multiseluler, hanya 2 marga saja yang uniseluler.Talus yang multiseluler berbentuk filamen silinder ataupun helaian.Pada dasarnya talus yang multiseluler, terutama yang tinggi tingkatannya terdiri dari filamen-filamen yang bercabang-cabang dan letaknya sedemikian rupa hingga membentuk talus yang pseudoparenkhimatik.Talus umumnya melekat pada substrat dengan perantaraan alat pelekat. Pada Rhodophyta yang tinggi tingkatannya ada 2 tipe talus: monoaksial dan multiaksial. Reproduksi pada perkembangbiakan pada divisi Rhodophyta umunya sama dengan jenis divisi lainnya dari alga (Hook, 1998)
Reproduksi dapat dilakukan secara vegetatif dengan fragmentasi. Rhodopyceae membentuk bermacam-macam spora, karpospora (spora seksual), sporta, netral, monospora. Tetraspora, bispora, dan polispora (Sabbhitah, 1999)
Habitat Rhodophyta menurut (Sulisetjono, 2009), hidup di lingkungan air tawar. Distribusi luas di seluruh dunia, sebagian besar tumbuh pada batu-batuan karang, beberapa jenis juga epifit pada tumbuhan air kelompok tumbuhan tinggi (Angiosperm) atau pada Rhodophyceae yang lain.
2.1.3   Phaeophyta
Pada umumnya Phaeophyceae memiliki tingkat labih tinggi secara morfologi dan anatomi diferensiasinya dibandingkan keseluruhan alga.Tidak ada bentuk yang berupa sel tunggal atau koloni (filamen tidak bercabang).Susunan tubuh yang paling sederhana adalah filamen heterotrikus.Struktur talus yang paling kompleks dapat dijumpai pada alga pirang yang tergolong kelompok (Nereocystis, Makrocystis, Sargassum).Pada alga terdapat diferensiasi eksternal yang dapat dibandingkan dengan tumbuhan berpembuluh. Talus pada alga ini mempunyai pelekat menyerupai akar., dan dari alat pelekat ini tumbuh bagian yang tegak dengan bentuk sederhana atau bercabang seperti pohon dengan cabang yang menyerupai daun dengan gelembung udara.Walaupun ganggang coklat ini mempunyai organisasi badaniyah yang lebih kompleks daripada ganggang lain, tetapi tumbuhan ini bukan merupakan tumbuhan yang telah berhasil berkolonisasi pada lahan kering. Alasan kesimpulan ini ialah bahwa kombinasi pigmen-pigmen fotosintesis, sifat cadangan karbohidratnya dan pembentukan flagel pada tahap-tahap perkembangbiakannya berbeda dengan yang dijumpai pada kelompok tumbuhan darat manapun.(Loveless, 1989).
Dalam Dewi (2006), karakteristik pada Phaeophyta sebagai berikut.
a.      Pigmentasi
Alga coklat mempunyai klorofil a dan c, alfa dan beta karoten dan beberapa flavosantin dan leutin.Xantofil (fukosantin dan violaksantin) dalam jumlah banyak sehingga menyebabkan warna coklat sampai hijau kecoklatan.Pigmen terletak dalam plastid dengan tilakoid.
b.      Cadangan makanan
Berupa laminarin, manitol, dan lemak.Pada beberapa jenis mengandung algin dan asam alginate sebagai komponen penyusun dinding selnya.
c.      Motilitas
Alga coklat tidak ada yang uniseluler. Sel-sel reproduktif baik zoospora maupun gamet yang mempunuyai flagella yang umumnya terdapat pada bagian lateral yang tidak sama panjang. Flagel pada bagian anterior yang lebih panjang memiliki tipe tinsel dan pada bagian yang posterior lebih pendek memiliki tipe whiplash.
d.     Dinding sel
Dinding sel menghasilkan asam alginat, banyak terdapat pada tipe-tipe yang disebut “kelp” dan “fukoid”.Asam alginate memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.Biasanya digunakan sebagai stabilizer produk-produk komersial lainnya seperti produk “rumput laut” yang dapat dimakan.

Reproduksi dapat dilakukan secara vegetatif, sporik, dan gametik.Reproduksi vegetatif umumya dilakukan dengan fragmentasi talus.Semua anggota dari Phaeophyceae kecuali anggota dari bangsa fucales melakukan reproduksi secara sporik dengan zoospora atau aplanospora yang masing-masing tidak berdinding.Zoospora dibentuk dalam sporangium bersel tunggal (unilokular) atau bersel banyak (Plurilokular).Perkembangan dari sporangia yang unilokular dimulai dengan membesarnya sel terminal dari cabang yang pendek.Pada sporangia terdapat inti tunggal yang mengalami pembelahan meiosis diikuti dengan pembelahan mitosis.Ketika pembelahan inti berhenti, terjadilah celah yang membagi protoplas menjadi protoplas berinti tunggal.Masing-masing protoplas mengalami meteamorfose menjadi zoospora.Alat reproduksi yang plurilokular juga terbentuk dari sel terminal dari cabangnya.Sel ini mengadakan pembelahan tranversal berulang-ulang sehingga terbentuk sederetan sel yang terdiri dari 6-12 sel. Pembelahan sel secara vertikal dimulai dari sel yang letaknya di tengah (Sulisetjono, 2009).
Reproduksi gametik dilakukan secara isogami, anisogami, dan oogami.Gamet biasanya dibentuk dalam gametamia yang prolikuler atau yang unilokuler pada gametofit.Zigot yang terbentuk tidak mengalami masa istirahat dan langsung membentuk sporofit setelah lepas dari gametofit.Pada beberapa bangsa seperti laminariales reproduksinya secara oogami.Anteredium bersifat prolikuler misalnya pada Dictyota dan unilokuler pada Laminaria. Pada phaeophyceae terdapat tiga tipe daur hidup (Sulisetjono, 2009):
1.             Tipe isomorfik, fase sporofit dan ganetofit morfologinya identik
2.             Tipe heteroorfik, sporofit dan gametofit morfologinya berbeda
3.             Tipe diplontik
2.2   Faktor  eksternal kehidupan makroalga di Kondang Merak
2.2.1 pH
Derajat keasaman atau pH digambarkan sebagai keberadaan ion hidrogen. Variasi pH pada dapat mempengaruhi metabiolisme dan pertumbuhan kultur mikroalga antara lain mengubah keseimbangan karbon anorganik, mengubah ketersediaan nutrien dan mempengaruhi fisiologi sel. Kisaran pH untuk kultur alga biasanya antara 7-9, kisaran optimum untuk alga laut berkisar antara 7,8-8,5. Secara umum kisaran pH yang optimum pada kulturNannochloropsis sp. antara 7 – 10 (Anonim, 2008).                  
2.2.2 Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Perubahan suhu berpengaruh terhadap proses kimia, biologi dan fisika, peningkatan suhu dapat menurunkan suatu kelarutan bahan dan dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi fitoplankton diperairan. Secara umum suhu optimal dalam kultur fitoplnkton berkisar antara 20-24oC. Suhu dalam kultur diatur sedemikian rupa bergantung pada medium yang digunakan. Suhu di bawah 16oC dapat menyebabkan kecepatan pertumbuhan turun, sedangkan suhu diatas 36oC dapat menyebabkan kematian.Beberapa fitoplankton tidak tahan terhadap suhu yang tinggi. Pengaturan suhu dalam kultur fitoplankton dapat dilakukan dengan mengalirkan air dingin ke botol kultur atau dengan menggunakan alat pengatur suhu udara (Taw, 1990).
2.2.3 Cahaya
Cahaya merupakan sumber energi dalam proses fotosintesis yang berguna untuk pembentukan senyawa karbon organik. Intensitas cahaya sangat menentukan pertumbuhan fitoplankton yaitu dilihat dari lama penyinaran dan panjang gelombang yang digunakan untuk fotosintesis. Cahaya berperan penting dalam pertumbuhan mikroalga, tetapi kebutuhannya bervariasi yang disesuaikan dengan kedalaman kultur dan kepadatannya. Kedalaman dan kepadatan kultur yang lebih tinggi menyebabkan intensitas cahaya yang dibutuhkan tinggi. Intensitas cahaya yang terlalu tinggi dapat menyebabkan fotoinhibisi dan pemanasan. Penggunaan lampu dalam kultur mikroalga minimal dinyalakan 18 jam per hari, hal tersebut dilakukan sampai mikroalga dapat tumbuh dengan konstan dan normal (Coutteau,1996).
2.2.4 Kecepatan Angin
Angin merupakan salah satu factor abiotik yang mempengaruhi jumlah dan penyebaran keanekaragaman hayati suatu makhluk hidup. Kecepatan angin adalah suatu yang harus diperhatikan ketika melakukan pengamatan ataupun observasi, hal ini didasarkan bahwa angin memberikan tngkat integritas daerah sebaran alga di daerah tersebut. Ketika kecepatan angin dalam daerah tersebut sesuai maka keanekaragaman hayati khusunya alga akan lebih banayak (Anonim, 2008)




BAB III
METODE PENELITIAN
3.1   Waktu dan Tempat
Penelitian tentang “Habitat kehidupan makroalga divisi Chlorophyta, Rhodophyta, dan Phaeophyta”  ini dilakukan pada hari sabtu-minggu, pada tanggal 11-12 oktober 2014 di pantai Kondang Merak Malang.

3.2    Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah:

1.             Meteran                                                       1 buah

2.             Thermometer                                               1 buah

3.             Luxmeter                                                    1 buah

4.             Anemometer                                               1 buah

5.             PH meter                                                     1 buah

3.2.2 Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah:

1.             Kamera                                                       1 buah

2.             Pensil                                                          1 buah

3.             Kertas HVS                                                2 lembar

4.             Buku literatur                                              2 buah

3.3     Cara Kerja

1.             Disiapkan alat dan bahan.

2.             Ditentukan plot sebagai tempat penelitian makroalga

3.             Diukur luas plot yang dibuat sebagai tempat penelitian makroalga dengan meteran.

4.             Diukur suhu tempat penelitian dengan menggunakan termometer.

5.             Diukur intensitas cahaya tempat penelitian dengan menggunakan luxmeter.

6.             Diukur kecepatan angin tempat penelitian dengan menggunakan anemometer.

7.             Diukur PH tempat penelitian dengan menggunakan PH meter.

8.             Diamati spesies makroalga dari divisi Chlorophyta, Rhodophyta, dan Phaeophyta yang ditemukan.

9.             Didokumentasikan gambar-gambar hasil pengamatan.

10.         Dicatat semua data hasil pengamatan untuk dibuat laporan sementara.





BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1         Hasil Pengamatan
No
Identifikasi
Pengamatan 1 / Sore
Pengamatan 2 / Pagi
1.
Daerah territorial (Luas)
± 159 m x 44 m
± 100 m x 55 m
2.
Intensitas Cahaya
16.36 WIB = 151 lux
07.40 WIB = 140 lux
3.
Kecepatan Angin
1,6 m/s
1,7 m/s
4.
Suhu Lingkungan
31 C
29 C
5.
Suhu Air
25 C
23 C
6.
pH
6
6

4.2         Pembahasan
4.2.1 Lokasi Penemuan Alga
Kondang Merak dipilih sebagai lokasi dalam pengamatan ini karena tingkat keragaman dan habitat dari makroalga yang ada didalamnya diyakini masih baik dalam segi ekosistem daratan maupun ekosistem perairannya. Menurut Saptasari (2010), Pantai Kondang Merak merupakan tempat yang ideal untuk pertumbuhan makroalga sebab perairannya yang masuk daerah pasang surut sampai daerah subtidal, subtratnya berupa batu karang, pasir serta intensitas cahaya yang cukup.
Habitat yang sesuai dan ideal, merupakan faktor-faktor penting yang harus dimiliki tiap daerah yang keragaman makroalga didalamnya masih tergolong cukup beragam. Pengamatan pertama dilakukan sore hari menjelang senja dan pengamatan kedua dilakukan pada pagi hari, yaitu ketika air laut mulai surut.
Topografi kawasan Pantai Kondang Merak terdiri dari dataran  luasnya diperkirakan 1.125 Ha dan perbukitan atau pegunungan luasnya diperkirakan 1.526 Ha. Pantai Kondang Merak mempunyai pantai yang relatif terlindung, selain itu terdapat adanya muara sungai (estuari) yang memiliki organisme yang beraneka ragam yang meliputi terumbu karang, lamun, dan mangrove. Faktor-faktor Oceanografi yang mempengaruhi perairan Pantai Kondang Merak meliputi suhu, arus, salinitas, pH dan kecerahan. (Khasanah et al, 2013).
4.2.1.1 Chlorophyta
Alga Hijau (Chlorophita) banyak ditemukan di daerah air tawar ataupun air laut. Alga Hijau, terutama berhabitat air laut dapat ditemukan di daerah bersubstrat karang atau pasir. Habitatnya adalah di laut dan menempel pada batu karang yang terletak diperairan pantai. Kira-kira 0-10 meter dari tepi pantai.
Pengamatan kali ini pengamatan habitat alga jenis Chlorophyta dilakukan di daerah pesisir pantai kondang merak malang selatan. Alga Hijau yang berhasil ditemukan pada oengamatan ini adalah Ulva lactuca, dll






                         (Gb. 1 Chlorophyta)
4.2.1.2 Rhodophyta
Alga merah hidup di luat dalam, terutama di laut beriklim panas. Anggota kelompok alga merah dapat ditemukan di daerah pantai hingga kedalaman 100 meter (Aziz, 2008).
Alga merah biasa menempel pada alga lain atau pada batu. Ada juga yang hidup bebas mengapung dipermukaan air. Alga merah biasa ditemukan di air cukup dalam, lebih dalam dibanding tempat tumbuh kelompok alga lainnya. Fikobilin, pigmen pada alga merah, dapat mengumpulkan cahaya hijau dan biru yang masuk ke air yang dalam. Dengan begit alga merah dapat berada di lokasi perairan yang lebih dalam dibanding alga lainnya (Estiati B, Hidayat. 1995).
Spesies divisi rhodophyta yang ditemukan dipantai kondang merak diantaranya adalah Gracilaria sp, dll





                      (Gb.2 Rhodophyta)

4.2.1.3 Phaeophyta
Alga coklat umumnya hidup di lingkungan laut. Hanya beberapa jenis Phaeophyta yang saja yang hidup di air tawar. Banyak alga coklat memiliki struktur berisi udara yang membuat mereka dapat melayang di air (Pitriana, 2008). Phaeophyta hidup melekat pada dasar perairan (melalui semacam akar), sedangkan bagian tubuh lainnya mengapung di air, dan melekat pada batu karang.
Spesies divisi phaeophyta yang ditemukan dipantai kondang merak diantaranya adalah Padina sp, dll






                          (Gb. 3 Phaeophyta)
4.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Sebaran
Parameter lingkungan sangat mendukung terhadap pertumbuhan suatu ekosistem pertumbuhan alga, parameter lingkungan ini mencakup suhu, kecepatan angin, intensitas cahaya, ph, suhu air, suhu lingkungan dan daerah territorial sebaran alga.
pertumbuhan Alga sangat bergantung dengan keadaan lingkungan apabila parameter lingkungan tersebut bagus maka sebuah ekosistem tersebut akan berkembang sangat baik dan begitu sebaliknya. Beberapa peneliti melaporkan adanya pengaruh nyata perubahan parameter lingkungan terhadap sebuah ekosistem, antara lain dapat mempengaruhi metabolisme, penyerapan unsur hara dan kelangsungan hidup terhadap ekosistem tersebut.
Berdasarkan hasil pengamatan yang kami dapatkan bahwasanya pada pengamatan pertama diperoleh hasil sebagai berikut
·               Daerah territorial (Luas)
Hasil pengamatan yang kami dapatkan bahwa pada pengamatan pertama mendapatkan hasil Daerah territorial (Luas) ± 159 m2, sedangkan pada pengamatan kedua mendapatkan hasil Daerah territorial (Luas) ± 100 m2, sehingga total daerah yang kami amati adalah ± 259 m2.








(Gb. 4 Saat Perhitunagn)                                 (Gb. 5 daerah pengamatan)
·               Intensitas Cahaya
Hasil pengamatan yang kami dapatkan bahwa pengamatan pertama mendapatkan hasil Intensitas Cahaya pada pukul 16.36 WIB sebesar 151 lux, sedangkan pengamatan kedua  Intensitas Cahaya pada pukul 07.40 WIB yang didapatkan adalah sebesar 140 lux.







(Gb. 6 perhitungan lux meter)
·               Kecepatan Angin
Hasil pengamatan yang kami dapatkan bahawa pada pengamatan pertama Kecepatan Angin di pantai kondang merak adalah sebesar 1,6 m/s, dan pada pengamatan kedua  Kecepatan Angin yang didapatkan adalah sebesar 1,7 m/s.














(Gb. 4 Penghitungan kecepatan angin)
·               Suhu Lingkungan dan Suhu Air
Hasil pengamatan yang kami dapatkan bahwa pada pengamatan pertama Suhu Lingkungan 31 C dan Suhu Air 25 C, sedangkan pada pengamatan kedua Suhu Lingkungan sebesar 29 C dan Suhu Air 23 C.







(Gb. 5 Pengukuran suhu)
·               PH
Hasil pengamatan yang kami dapatkan bahwa pada pengamatan pertama mendapatkan hasil Ph sebesar 6 dan pada pengamatan kedua mendapatkan hasil ph sebesar 6.




BAB V
PENUTUP

5.1         Kesimpulan
Kesimpulan pada penelitian/observasi ini adalah Habitat alga Cholorophyta yaitu di perairan kira-kira 0-10 meter dari tepi pantai di daerah bersubstrat karang atau pasir. Kemudian Habitat alga Rhodophyta yaitu di daerah pantai hingga kedalaman 100 meter, biasanya menempel pada alga lain atau batu, dan ada juga yang mengapung. Dan Habitat alga Phaeophyta yaitu hidup melekat pada dasar perairan (melalui semacam akar), sedangkan bagian tubuh lainnya mengapung di air, dan melekat pada batu karang.

5.2         Saran
Saran yang dapat disampaikan pada penelitian ini adalah diharapkan kepada masing-masing individu/praktikan untuk melakukan persiapan-persiapan sebelum melakukan observasi dan identifikasi. Agar mendapat wawasan baru yang lebih luas dan hasil yang dilakukan dalam pengamatan bisa lebih maksimal.




DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Faktor-faktor distribusi alga. Kanisius. Yogyakarta     
Ciremai. 2008. Biologi Laut. Jakarta: PT. Gramedia.
                   Cotteau. 1996. Trends in ecology and evolution. Doctor disertation, University of Rostock
Dawson, E.Y. 1966. Marine Botany: An Introduction. New York: Holt, Rinehart and Winston Inc.
Dewi, Puspita. 2006. Keanekaragaman Alga Makroskopis pada Zone Litoral di Beberapa Pantai Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng. Tidak diterbitkan
Gupfa, J.S. 1981. Text Book of Algae.Oxford & IBH Publishing.Co. New Delhi.
Hayati, A danInsan, M, 2009. Keanekaragaman Makroalga di Pantai Kondang Merak Kabupaten Malang. Makalah Seminar Nasional Biologi XX dan Konggres PBI XIV di Universitas Maulana Malik Ibrahim Malang. 24-25/III 2009.
Hook, C. Van den. 1998. Algae An Introduction to Phycology. Cambridge. University Press. London.
JelantikSwasta, Ida Bagus. 2003. Tinjauan Singkat Tentang Aspek Biologi dan Ekologi Rumput Laut. Makalah Seminar. Tidak diterbitkan.
Kennish, Michael J. 2001.Practical Handbook of Marine Science. London: CRC Press
Lunning, Klaus. 1990. Seaweeds: Their Environment, Biogeography, and Ecophysiology. Canada: John Wiley and Sons, Inc.
Nontji, A. 1981.Biologi Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan.
Plezar, Michael, J. 1989.Dasar-DasarMikrobiolgi. Jakarta: UI. Press.
Prasetyo, L. 2009. Studi Tentang Keanekaragaman Karang Jenis Hermatipik (Hermatypic Coral) Di Pantai Kondang Merak Kabupaten Malang Propinsi Jawa Timur. Skripsi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Malang
Sabbithah, S. 1999. Taksonomi Tumbuhan 1 (ALGAE). Laboratorium Taksonomi Tumbuhan. Fakultas Biologi UGM.
Saptasari, Murni. 2010. Variasi Ciri Morfologi Dan Potensi Makroalga Jenis Caulerpa Di Pantai Kondang Merak Kabupaten Malang. El Hayah. Vol.1 No.2
Sulisetjono. 2009. Bahan Serahan Alga. Malang : UIN Press.          
Taylor. 1960. Biologi. Bandung : Ganeca Exact.
Taw Nyan, DR. 1990 . Petunjuk Pemeliharaan Kultur Murni dan Massal Mikroalga. Proyek Pengembangan Budidaya Udang : United Nations Development Progrramme Food and agriculture organization of the Unite Nations. US. 34 hal (diterjemahkanoleh : Budiono M & Indah W)
Tjitrosoepomo, Gembong. 1983. Taksonomi Tumbuhan Obat-obatan. Yogyakarta: UGM Press.
Previous
Next Post »